Veronika Doi

Pekerja Migran Purna asal Lembata - NTT

yang selalu Bangga dengan Produk Kripik Pepaya Muda

Buatannya Sendiri

Slide 1 Heading
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipiscing elit dolor
Click Here

Veronika Doi Lamatapo, seorang ibu rumah tangga asal Desa Waimatan Kecamatan Ile Ape Timur Kabupaten Lembata Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Dia adalah migran purna. Maklum, sebelumnya dia pernah bekerja di Malaysia. Kemudian pindah ke Tanjung Pinang di Indonesia. Selama bermigrasi, Veronika menjalani hidup yang penuh tantangan dan keterbatasan, jauh dari keluarga tercinta. Tujuannya hanya satu, memperbaiki ekonomi keluarga dan memberi masa depan yang lebih baik bagi anak-anaknya. Namun, setelah lebih dari lima tahun (2000-2005), ibu dua anak ini memutuskan pulang ke kampung halaman dengan tekad memulai hidup baru.

Awalnya, belahan hati dari bapak Agustinus ini memulai usahanya dengan memelihara ayam pedaging atau ayam potong. Namun usaha jenis ini tak mampu bertahan karena harga pakan semakin melambung yang membuat dirinya tak berdaya. Pupus sudah harapannya. Ia kembali sebagai ibu rumah tangga tanpa kesibukan produktif.

Di sisi yang lain, suaminya hanya sebagai nelayan tanpa dukungan prasarana penangkapan seperti sampan atau perahu dan pukat serta peralatan tangkap lainnya. Agus, demikian panggilannya, hanya memiliki satu buah peralatan tembak sederhana yang dibuatnya sendiri plus anak panah dan kacamata cembung. Dia hanya mengandalkan kemampuan menyelam serta kekuatan nafas yang mampu bertahan lama dalam laut.

“Saya hanyalah penyelam dan hanya memiliki satu alat tembak yang saya buat sendiri. Saya berusaha untuk bisa menyelam dan harus mampu bertahan dalam air laut untuk beberapa lama. Kadang dapat ikan banyak, kadang sedikit, bahkan kadang tidak dapat apa-apa. Walaupun demikian, hasil tangkapan ini, sedikit yang dimakan dan sebagian besar dijual untuk memenuhi kebutuhan lainnya”, kisah Agus, didampingi istrinya Veronika.

Beberapa tahun kemudian, Veronika menemukan harapan baru lewat keikutsertaannya dalam Komunitas Buruh Migran Purna Desa Waimatan. Tepatnya di bulan Agustus 2023, Yayasan Kesehatan untuk Semua (YKS) membentuk Komunitas Buruh Migran Purna di Desa Waimatan. Bersama komunitas ini, ia menjadi penerima manfaat program YKS. Lembaga sejenis LSM ini, fokus pada perlindungan buruh migran dan penguatan ekonomi inklusi atas kerjasama dengan Migrant CARE Jakarta dan didukung Lembaga INKLUSI.

Awalnya, Veronika yang akrab dipanggil Vero itu merasa ragu apakah ia bisa menjalankan usaha sendiri. Namun setelah mengikuti berbagai pelatihan dari YKS, mulai dari cara pembuatan produk, mengelola keuangan, strategi pemasaran, inovasi produk, hingga ketrampilan produksi lainnya, ia mulai berani memulai usaha kripik pepaya muda. Vero memilih pepaya muda karena bahan bakunya mudah didapat dan tersedia di kampung dan wilayah sekitarnya.

Pasca mengikuti beberapa pelatihan yang digelar YKS, Vero dan suaminya mulai menyiapkan peralatan-peralatan produksi yang dibutuhkan dalam proses produksi kripik pepaya muda. Proses pembuatan kripik pepaya muda dilakukan Veronika dengan penuh ketelitian. Suaminya juga selalu membantunya dalam proses produksi.

Kini, Vero membuka lapak kecil di kompleks SDN Hamahena Waimatan, yang ramai dikunjungi para orangtua dan anak-anak sekolah. Setiap pagi sebelum bel masuk, banyak anak-anak mampir membeli kripik sebagai camilan. Ada juga para guru yang menjadi pelanggan setia.

Partisipasi dalam Pameran Produk

Selain penjualan produk di lapak SDN Hamahena Waimatan, Vero aktif dalam setiap pameran produk dalam beberapa event pameran yang digelar Pemerintah Kabupaten Lembata. Antara lain Pameran Festival Lamaholot, Ulang Tahun Otonomi Daerah, Maestro Film Langit Jingga dan Tugu Nuan yang digeler Pemerintah Desa Petuntawa Ile Ape.
Selain pameran produk, belahan hati Agustinus ini juga terlibat dalam kegiatan MDI di Wonosobo Desember 2024. Produk unggulannya Kripik Pepaya pun menjadi produk pameran MDI Wonosobo.

Copyright 2025

All Right Reserved