Tepat Pukul 10.00 WITA, aula utama hotel Annisa Beach Lewoleba di penuhi peserta. Mereka adalah perempuan purna migran yang datang dari 12 desa dampingan Yayasan Kesehatan untuk Semua (YKS) yang tersebar di Kecamatan Ile Ape, Ile Ape Timur dan Lebatukan, Kabupaten Lembata, NTT.
Dari 60 peserta yang hadir hari itu, Jumat, 16 Mei 2025, hanya tiga orang lelaki yang melebur diantara para perempuan. Mereka umumnya berusia antara 40 – 50 tahun.
Beberapa lainnya berusia antara 50 – 60 tahun. Namun semangat mereka luar biasa. Mereka datang menempuh perjalanan jauh dengan satu tekad mengikuti sosialisasi pencegahan ektermisme berbasis kekerasan yang digelar YKS bekerjasama dengan Migrant Care Jakarta dengan dukungan INKLUSI.
Emilana Lein salah satu staf program YKS didaulat menjadi MC untuk memulai acara. Emiliana yang tampil dengan baju hitam bermotif bunga, mengawali kegiatan dengan ucapan selamat kepada para peserta. Selanjutnya ia mengawali dengan mengecek kehadiran peserta dari setiap daerah.
Kesempatan berikutnya diberikan kepada Kor Sakeng untuk memberikan pengantar pembuka mewakili YKS. Dalam pengantar Pembuka Sakeng memberikan gambaran kepada peserta bahwa keberadaan YKS di Lembata sudah sejak tahun 2014 dengan kerja-kerja yang berkaitan dengan bagaimana memperjuangkan tata kelolah migrasi aman di tiga segmen yakni, advokasi, penguatan kapasitas pemerintah desa dan komunitas PMI; Penguatan Ekonomi perempuan PMI purna; dan diseminasi informasi tentang migrasi aman termasuk pencegahan ekstermisme berbasis kekerasan, TPPO dan isu lainnya yang beririsan dengan nasib para pekerja migran.
“Lembata menjadi salah satu kantong PMI dengan jumlah terbesar ada di Malaysia, dan sebagian kecil ada di Singapura dan Hongkong. Karena itu upaya pencegahan ekstermisme berbasis kekerasan menjadi penting. Hari ini kita bertemu untuk mendalami pengetahuan kita tentang ekstermisme, agar yang hadir hari ini akan menjadi corong informasi buat keluarga yang ingin bekerja ke luar negeri, dan siapa saja,” pinta Sakeng, sembari menambahkan bahwa diskusi merupakan bagian dari proses belajar sehingga dibutuhkan keaktifan semua peserta.
Dalam kegiatan ini, metode pembelajaran didominasi dengan permainan. Metode ini dirancang demikian untuk pembelajaran orang deswasa. Apalagi diantara mereka, ada yang memiliki daya ingat relatif menurun karena faktor usia.
Usai pembukaan, kegiatan yang difasilitasi Emiliana Wae dari Komunitas PMI dan Emiliana Lein staf YKS ini diawali dengan perkenalan berantai. Mulanya faslitator menjelaskan tentang metode permainan. Peserta yang mendapatkan spidol ketika dilempar pertama oleh Fasilitator harus menjelaskan nama panggilan, makanan kesukaan dan alasan atas pilihan terkait makanan kesukaan. Selanjutnya orang kedua melakukan hal yang sama, namun menyebutkan juga nama panggilan, makanan kesukaan dan alasannya dari orang yang memperkenalkan diri sebelumya. Begitu seterusnya. Pada sesi ini tidak semua peserta memperkenalkan diri karena keterbatasan waktu. Fasilitator kemudian meminta peserta menjelaskan makna perkenalan.
Ada beragam pemaknaan yang diberikan peserta. Ada yang memaknai permainan perkenalan sebagai upaya menguji konsentrasi peserta agar lebih fokus dalam mengikuti kegiatan. Ada juga yang memaknai sebagai upaya agar peserta saling mengenal satu sama lain, karena mereka datang dari daerah yang berlainan, dan sejumlah pemaknaan lainnya. Gelak tawa peserta mewarani sesi ini karena ada peserta yang lupa menyebut identitas orang sebelumnya, atau makanan faforit serta alasan menyukai makanan favorit peserta sebelumnya.